Showing posts with label Inventor. Show all posts
Showing posts with label Inventor. Show all posts

Pencipta Stetoskop Pertama

RENE LAENNEC (1781-1826)
Dunia kesehatan tentu sudah tak asing lagi mendengar kata stetoskop. Sebab, stetoskop merupakan salah satu simbol yang sangat dikenal bagi profesi kesehatan, seperti; dokter, perawat, bidan, dan profesi kesehatan lainnya. Mulanya, alat ini dibuat sebagai alat untuk mendengarkan denyut jantung pasien. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) lahir pula beberapa jenis stetoskop modern dan desain stetoskop kontemporer yang bisa digunakan untuk mendengarkan suara yang dipancarkan oleh beragam organ tubuh, termasuk jantung, usus, perut, dan sistem peredaran darah.

Stetoskop merupakan salah satu alat kesehatan yang hampir selalu bisa kita lihat apabila kita sedang memeriksakan diri ke dokter. Sejarah mencatat bahwa stetoskop mulai dikembangkan sejak abad ke-17 di Francis, yakni oleh seorang Dokter Perancis yang bernama lengkap Rene Theophile Hycinthe Laennec pada tahun 1816, walaupun pada dasarnya konsep analisis penyakit melalui suara detak jantung sudah dikenal sejak lama di literatur Mesir. Praktik mendengarkan jantung pasien yang dikenal dengan istilah "auskultasi" ini telah lama dikenal bersamaan dengan sejarah Bapak Kedokteran Modern, Hippocrates. Rene Laennec lahir di Quimper, Perancis pada tanggal 17 Februari 1781, dia merupakan seorang penemu stetoskop saat bekerja di Hôpital Necker dan mempelopori penggunaannya dalam mendiagnosis berbagai kondisi dada.

Bentuk dari stetoskop pertama (dari
buku Rene Laennec 1819)
(Gambar dari: http://en.wikipedia.org/)
Pada dasarnya mendiagnosis melalui suara dari organ tubuh manusia telah dilaporkan dalam literatur kuno. Hippocrates menganjurkan untuk mencari instrumen yang praktis dalam dunia kedokteran pada tahun 350 SM. Hippocrates telah menggunakan metode untuk menggunakan telinga secara langsung ke dada pasien dan telah ditemukan bahwa motode tersebut sangat berguna untuk mendeteksi akumulasi cairan yang ada di dalam dada. Bahkan, Ambroise Pare seorang ahli bedah terkenal pada abad 16 mencatat jika ada materi lain di dalam dada manusia, kita bisa mendengar suaranya dari botol yang diisi setengah.

Lahirnya stetoskop pertama di dunia yang diciptakan oleh Rene Laennec bermula ketika ia sedang memeriksa pasien seorang perempuan muda. Rene Laennec merasa malu jika harus menempatkan telinganya di dada, yang merupakan metode auskultasi yang selalu digunakan oleh para dokter saat itu. Dia masih ingat akan "trik" yang pernah ia pelajari semasa masih anak-anak yang bermain suara melalui suatu padatan.

Kemudian ia pun menggulung 24 lembar kertas, yang selanjutnya ditempatkan satu ujung telinga dan ujung lainnya ke dada pasien perempuan muda tersebut. Laennec merasa puas dan cukup senang menemukan bahwa kerucut. kertas itu bisa mendengar suara yang cukup jelas dan keras. Saat itulah pertama tercatat dalam dokumentasi naskah auskultasi dengan menggunakan alat stetoskop (mediate auskultasi) pada 8 Maret 1817 saat Rene Laennec memeriksa Marie Melaine Basset, yang berumur 40 tahun.

Rene Laennec menyebut alatnya ini dengan sebutan Le Cylindre, yang kemudian berubah nama menjadi stetoskop. Nama stetoskop ini diambil dari bahasa Yunani yang berarti "saya lihat" dan "dada". Ia ciptakan sebuah stetoskop dari sepotong kayu, di mana salah satu ujungnya memiliki lubang untuk menempatkan didekat telinga dan ujung lainnya berbentuk cekung.

Kemudian Laennec pun menerbitkan hal tersebut pada risalah klasik pada auskultasi di tahun 1819 di mana ia pun membahas tentang stetoskopnya yang diilustrasikan dengan desainnya. Dan pada edisi kedua diterbitkan pada tahun 1826, setelah Rene Laennec tutup usia akibat penyakit TBC yang dideritanya pada 13 Agustus 1826.

Stetoskop Modern.
(Gambar dari: http://en.wikipedia.org/)
Desain stetoskop digambarkan memiliki panjang 12 inci dan 1.5 inci dengan diameter 0.38 inci. Dan pada saat ini alat stetoskop bisa dibeli dengan harga 2 franc.

Dalam perkembangan selanjutnya stetoskop sendiri pun terbagi menjadi 2 jenis, yaitu stetoskop monaural dan stetoskop bi-naural. Seiring dengan kemajuan yang semakin pesat dalam dunia kesehatan, khususnya dunia kedokteran stetoskop pun kian dikembangkan, hingga lahirlah stetoskop modern, seperti stetoskop populer di mana desain stetoskopnya Rappaport Sprague yang dikembangkan pada tahun 1940, tetap populer di seluruh komunitas profesi kesehatan selama lebih dari lima tahun.

Stetoskop Ljttman, stetoskop yang dikembangkan oleh Dr David Littman, dimana stetoskop ini menawarkan suara akustik yang lebih terang dan jelas dan dipatenkan pada tahun 1963. Bahkan, lahir pula stetoskop yang berfungsi sebagai peredam bising, stetoskop ini telah dipatenkan oleh Deslauries Richard pada tahun 1999. *** [BUDI IMANSYAH | WIKIPEDIA | PIKIRAN RAKYAT 13092012]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.Enhanced by Zemanta

Menemukan Radar Untuk Mendeteksi Pesawat

ROBERT WATSON-WATT (1892-1973)
Robert Watson-Watt lahir pada tanggal 13 April 1892 di Brechin, Skotlandia. Watson-Watt masih keturunan James Watt, seorang insinyur terkenal dan penemu mesin uap. Setelah menempuh pendidikan di Damacre Primary School dan Brechin High School, Watson-Watt melanjutkan kuliah di University College, Dundee (sekarang bernama University of Dundee). Dia lulus dengan gelar BSc (bachelor of science) di bidang teknik pada 1912.

Pada 1915, Watson-Watt berprofesi sebagai ahli meteorologi di Royal Aircraft Factory di Farnborough. Di tempat tersebut dia mengaplikasikan pengetahuan radio yang sudah dimiliki sebelumnya dan ide menggunakan radio untuk mendeteksi badai guntur.

Riset pertama Watson-Watt adalah menggunakan radio gelombang pendek untuk mendeteksi lokasi badai guntur. Petir menimbulkan sinyal radio ketika berionisasi di udara, dan dia berencana mendeteksi sinyal ini sehingga didapatkan informasi yang berguna bagi para pilot pesawat akan bahaya badai guntur yang mendekati pesawat.

Riset pertama Watson-Watt berjalan sukses. Alat buatannya dapat bekerja mendeteksi sinyal dalam jarak lebih jauh. Namun, muncul dua masalah yang harus diatasi. Masalah pertama adalah penentuan lokasi sinyal dan juga arah badai. Masalah ini kemudian diatasi dengan menggunakan antena terarah yang dapat diatur secara manual untuk memaksimalkan dan meminimalkan sinyal, sehingga lokasi badai dapat ditentukan. Ketika permasalahan tersebut diatasi, muncul satu masalah lainnya, yaitu sinyal yang terlihat cepat menghilang. Masalah kedua ini diatasi dengan menggunakan sebuah osiloskop sinar katoda yarig mengandung fosfor ketahanan lama.

Pada 1934, Kementerian Angkatan Udara Inggris membentuk komite yang dipimpin oleh Sir Henry Tizard untuk meningkatkan pertahanan udara Britania. Selama Perang Dunia I, Jerman menggunakan Zeppelin sebagai pengebom wilayah London dan kota-kota lainnya. Hal tersebut membuat pertahanan Britania harus berjuang keras. Sejak saat itu kemampuan pesawat tempur Britania terus-menerus ditingkatkan untuk menghadang serangan musuh dari udara. Namun dengan keterbatasan waktu menjelajah, sebuah pesawat tempur memerlukan kemampuan ekstra untuk tetap mengudara. Oleh karena itu, solusi yang masuk akal harus segera muncul.

Pada 12 Februari 1935, Watson-Watt mengirim laporan rahasia tentang pengajuan suatu sistem berjudul "Detection and Location of Aircraft by Radio Methods" ("Mendeteksi dan Menentukan Lokasi Pesawat dengan Menggunakan Metode Radio") kepada Kementerian Angkatan Udara Inggris. Konsep yang diajukan Watson-Watt tersebut jelas potensinya untuk pertahanan udara. Metode radio yang digunakan untuk mendeteksi dan menentukan lokasi pesawat di udara adalah hasil pengembangan dari sistem pendeteksi badai guntur yang telah dibuat sebelumnya oleh Watson-Watt. Dia menamai metode pendeteksian pesawat tersebut range and direction finding (RDF), yang kemudian metode tersebut menjadi lebih dikenal dengan nama radio detection and ranging (radar).
Sir Robert Watson-Watt dengan perangkat radar asli yang dibuat di Ditton Park, Inggris pada tahun 1935. Perangkat ini sekarang berada di London Science Museum. (Picture from: http://www.wdc.rl.ac.uk/)
Radar berarti mendeteksi keberadaan, letak, dan arah gerak benda-benda seperti pesawat dan kapal di kejauhan melalui kemampuan benda tersebut untuk memantulkan seberkas radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang beberapa sentimeter. Radar terdiri dari pemancar yang menghasilkan radiasi frekuensi radio, yang dipancarkan pada antena yang dapat dipindah-pindahkan. Bila berkas radiasi yang dipancarkan terganggu oleh suatu benda padat seperti pesawat, sebagian energi radiasi akan dipantulkan kembali ke antena. Sinyal yang diterima antena diteruskan ke bagian penerima. Di bagian penerima inilah sinyal tersebut diperkuat sehingga lokasi pesawat terdeteksi. Gema dari pantulan benda padat ditunjukkan oleh kenaikan mendadak pada keluaran (output) detektor yang tampak di layar osiloskop.

Setelah mendapat laporan dari Watson-Watt tentang potensi radar untuk mendeteksi dan menentukan lokasi pesawat, Kementerian Angkatan Udara Inggris merespons melalui pertanyaan tentang demonstrasi yang membuktikan bahwa gelombang-gelombang radio dapat dipantulkan oleh pesawat. Bukti tersebut segera ditampilkan melalui demonstrasi sekaligus uji coba pada 26 Februari 1935 dengan menggunakan dua antena penerima yang ditempatkan pada jarak sekitar sepuluh kilometer dari salah satu stasiun siaran gelombang pendek milik BBC di Daventry. Demonstrasi tersebut sukses. Pada beberapa kejadian, sinyal tampak jelas dari pesawat pengebom Handley Page Heyford yang terbang di sekitar tempat uji coba. Sebagai pengakuan atas keberhasilan tersebut, pada 2 April 1935 Watson-Watt menerima hak paten peranti radio untuk mendeteksi dan menentukan lokasi sebuah pesawat.

Robert Watson-Watt meninggal pada 5 Desember 1973 di Inverness, Skotlandia. Atas kontribusinya mengembangkan perangkat radar untuk pertahanan udara Britania Raya, Watson-Watt mendapat banyak penghargaan dari pemerintah Inggris. Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga memberi penghargaan kepada Watson-Watt atas jasanya membantu membangun sistem radar untuk pertahanan di wilayah udara Pearl Harbor ketika Perang Dunia II.*** [GUN GUN GUNAWAN | PIKIRAN RAKYAT 21062012]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.Enhanced by Zemanta

Penemu Spikula Matahari

ANGELO SECCHI (1818-1878)
Angelo Secchi lahir pada tanggal 18 Juni 1818 di Reggio Emilia, Italia. Dia memasuki Ordo Jesuit ketika berusia 16 tahun serta mulai mempelajari fisika dan matematika pada tahun 1839. Kekacauan akibat pengaruh politik di Italia pada 1848 telah memaksa Secchi mengungsi ke Inggris dan setelah itu ke Georgetown University di dekat Washington yang menjadi tempat pertamanya mengkaji ilmu alam. Pada 1852 dia kembali ke Roma, Italia dan mendirikan observatorium baru di Collegio Romano

Secchi banyak memberikan kontribusi penting di bidang astronomi, terutama dalam pengklasifikasian spektral bintang. Dia adalah orang pertama yang membuat klasifikasi bintang berdasarkan sistematika spektroskopi (ilmu yang mempelajari metode-metode untuk menghasilkan dan menganalisis spektrum dengan menggunakan spektroskop, spektrometer, spektrograf, dan spektrofotometer). Atas pekerjaannya ini, beliau seringkali disebut sebagai Bapak Pengklasifikasian Bintang. Skema klasifikasi bintang yang dia buat itu memiliki pengaruh besar di paruh kedua abad ke-19 dan menjadi pembuka jalan bagi semua skema klasifikasi bintang yang dibuat di kemudian hari. 

Secchi adalah seorang yang sangat aktif mengkaji bidang fisika matahari. Ketertarikan mengkaji cabang ilmu ini muncul ketika dia tinggal di Amerika. Dia mempelajari dan mengamati (secara visual dan spektroskop kemunculan prominensa lidah api matahari) selama kejadian gerhana dan menjadi orang pertama yang menerangkan bahwa prominensa merupakan fitur yang dimiliki matahari. Ketika menjadi pimpinan Vatican Observatory, dia mengamati matahari dan menemukan keberadaan spikula matahari. Temuan keberadaan spikula (pancaran gas di kromosfer yang tampak seperti paku tajam) merupakan sesuatu yang berharga karena kemunculan spikula-spikula ini sampai sekarang terus-menerus diteliti. 

Suatu hasil pekerjaan Secchi yang pada zamannya menjadi alat yang spektakuler adalah pembangunan teleskop ekuatorial Merz. Instrumen itu memiliki ukuran bukaan (aperture) 24 sentimeter dan jarak titik api 435 sentimeter. Ketika itu Secchi memutuskan untuk memindahkan observatoriumnya ke puncak Gereja St. Ignatius. Bangunan itu merupakan wilayah yang cocok untuk dijadikan observatorium karena memiliki desain kubah berukuran tinggi 80 meter dan lebar 17 meter. Observatorium yang bernama Pontifical Observatory ini menjadi terkenal karena sejumlah temuan Secchi dan sudah tidak asing lagi di kalangan orang-orang Roma pada saat itu. 

Secchi adalah pakar astrofisika pertama yang menyatakan bahwa inti matahari berbahan gas dengan temperatur yang berangsur menurun dari bagian inti ke permukaan matahari. Meski beberapa teori yang pernah beliau ungkapkan tentang sunspot (bintik matahari), granulasi, dan prominensa matahari sekarang-sekarang ini dipertimbangkan usang (tidak bisa diterima), teori-teorinya itu telah memberi pengaruh yang besar di kalangan astronom dan pakar fisika matahari pada abad ke-19. 

Secchi, yang juga dijuluki sebagai Bapak Astrofisika, adalah orang yang pertama kali menggambar peta planet Mars pada tahun 1858. Dia menyebut Syrstis Major yang terdapat di permukaan Mars sebagai "Kanal Atlantik" ("Atlantic Canal"). Dia mendahului Schiaparelli dalam penggunaan istilah kanal di Mars, meski kanal yang digambarkan oleh Secchi bukan merupakan Martian garis lurus yang panjang seperti yang dilukiskan Schiaparelli dan Lowell. 

Angelo Secchi meninggal di Roma, Italia pada 26 Februari 1878. Sebuah kawah di Bulan dan Mars dinamai "Secchi Crater" sebagai penghormatan terhadap Angelo Secchi. *** [ZULVI HAETAMI | PIKIRAN RAKYAT 07062012]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.Enhanced by Zemanta

Penemu Metode Uji DNA

SIR ALEC JOHN JEFFREYS (1950 - SEKARANG)
Sir Alec John Jeffreys dilahirkan pada 9 Januari 1950 di Oxfordshire, Inggris. Ia berasal dari keluarga kelas menengah yang memiliki satu kakak dan satu adik. Enam tahun pertamanya ia habiskan di Oxford sampai tahun 1956, kemudian keluarganya pindah ke Luton Sejak kecil ia menunjukkan minat yang besar terhadap biokimia sikapnya ini dianggap sebagai sitat yang diwariskan dari kakek dan ayahnya yang kala itu keduanya telah memegang sejumlah hak paten dari beberapa produk.

Saat usianya 8 tahun, Alec sudah diberi oleh ayahnya satu set peralatan kimia yang besar, yang disempurnakan beberapa tahun kemudian dengan tambahan paket bahan-bahan kimia termasuk sebotol asam sulfat pekat yang kala itu pembeliannya di apotek masih bebas, belum diatur seperti sekarang, Alec sangat suka membuat ledakan kecil hingga tanpa sengaja percikan asam suifat tersebut meninggalkan bekas yang permanen di dagunya. Kemudian saat usianya sembilan tahun, ayahnya membelikannya mikroskop kecil untuk memeriksa sejumlah spesimen biologi. Minatnya yang tinggi terhadap ilmu biologi dan kimia, membuatnya berinovasi untuk membuat seperangkat peralatan bedah kecil yang ia gunakan untuk membedah sejumlah hewan seperti lebah dan bangkai kucing. Selain berminat pada ilmu biologi dan kimia, Jeffreys pun menyukai dunia sepeda motor.

Setelah menyelesaikan sekolah dari Sekolah Tata Bahasa Luton dan Sekolah Tinggi Luton Sixth Form, pada tahun 1968, ia melanjutkan kuliah di Merton College, Oxford, dan pada tahun 1972 ia lulus dengan gelar kehormatan di bidang biokimia. Setelah Jeffreys berhasil mengambil gelar PhD di Universitas Oxford dengan tesis mengenai studi pada mitokondria, ia pindah ke Universitas Amsterdam, dan bekerja sebagai peneliti gen mamalia. Pada tahun 1977, Sir Alec Jeffreys pindah ke Universitas Leicester dan menemukan lingkungan yang mendukungnya pada pengembangan penelitian terhadap variasi DNA pada individu.

Pada 10 September 1984, secara tidak sengaja, di tengah-tengah proses penelitiannya di laboratorium Leicester, Sir Alec Jeffreys melihat gambar film sinar-X dari beberapa eksperimen DNA, yang tampak menunjukkan adanya kesamaan dan perbedaan antara DNA dari berbagai anggota teknisinya. Dalam waktu sekitar setengah jam, ia menyadari bahwa dalam DNA pun terdapat ruang lingkup seperti halnya sidik jari. Ia menyimpulkan sidik jari DNA ini dapat digunakan sebagai kode-kode genetik untuk mengidentifikasi seseorang. Pengembangan metode ini kemudian menjadi hal yang penting untuk mengungkap identitas sesorang dalam ilmu forensik untuk membantu kepolisian, dinas imigrasi, dan membantu menyelesaikan perselisihan keturunan dalam suatu keluarga. Pengembangan metode ini pun berguna untuk hewan dan tumbuhan.

Pengembangan DNA forensik dengan menggunakan polymerase chain reaction (PCR) membuka pendekatan baru untuk tes DNA yang lebih spesifik dan akurat. Pengembangan metode uji DNA yang dilakukan Jeffreys pun terus nneningkat, hingga sampai pada metode menguak pola-pola STR (short tandem repeats), yang membuatnya berhasil menguak kasus-kasus identitas dari beberapa individu.

Kerja keras Sir Alec Jeffreys, telah membuatnya dianugerahi sejumlah penghargaan. Di antaranya, tahun 1986 menjadi Fellow dari Royal Society, 1989 menjadi Midlander of the Year, 1991 di angkat sebagai Profesor Riset Royal Society, 1992 menjadi warga kehormatan Kota Leicester, 1996 memperoleh penghargaan Albert Einstein Dunia Penghargaan Ilmu, 1999 memperoleh medali stokes, 2004 memperoleh Doktor Kehormatan dari University of Leicester, dan mendapatkan Royal Medali dari Royal Society, serta penghargaan Inggris untuk lifetime Achievement, serta hadiah kedokteran, 2006 memperoleh hadiah Dr AH Heinekien untuk Biokimia dan Biofisika, dan masih banyak lagi penghargaan yang diperolehnya, hingga 21 Februari 2011, ia memperoleh ABRF Award. *** [YAYI ZAKIAH | PIKIRAN RAKYAT 24052012]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.Enhanced by Zemanta

Penemu Awal Pengobatan Penyakit Lupus

NIELS RYBERG FINSEN (1860-1904)
Neils Ryberg Finsen, dilahirkan pada tanggal 15 Desember 1860 di Thorshavn, ibu kota Kepulauaan Faroe, bagian dari Denmark yang terletak di utara Kepulauaan Britania. Putra dari pasangan Hannes Steingrim Finsen (ayah) dan Johanne Froman (ibu) ini, menghabiskan masa kecilnya dengan bersekolah di beberapa sekolah di Thorshavn dan Herlufsholm, Denmark. Ayahnya, Hannes Steingrim Finsen adalah pejabat tinggi di pemerintahan Kepulauaan Faroe, pada masa itu.

Pada tahun 1876, Niels pindah ke sekolah di Reykjavik, Islandia, lalu meneruskan sekolah di Denmark Setelah tamat, pada tahun 1882, Niels melanjutkan pendidikan ke Kopenhagen mengambil bidang kedokteran. Ia menempuh ujian kedokteran pada tahun 1890 dan menerima gelar dokter pada tahun 1891. Niels lalu mengajar bidang anatomi di departemen pembedahan dan tak lama berselang, ia pun menjadi prosector anatomi di University of Copenhagen.

Pada tahun 1893, Niels yang begitu berminat pada cahaya matahari, melakukan serangkaian percobaan ilmiah mengenai fototerapi atau efek cahaya untuk pengobatan. Sebenarnya, sejak kanak-kanak Niels memang sangat menyukai melakukan pengamatan terhadap cahaya matahari sehingga ketika mahasiswa pun ia rajin mengamati pengaruh matahari terhadap jaringan serangga, berudu, dan pada binatang lainnya.

Besarnya minat yang dimiliki Niels untuk mempelajari cahaya matahari, menjadikannya fokus pada hal-hal yang menyangkut pengobatan penyakit oleh cahaya matahari. Ia memulainya dengan mengamati pengobatan luka cacar yang disebabkan oleh virus, dengan menggunakan cahaya matahari.
Aplikasi sinar terkonsentrasi Finsen dengan cahaya buatan. [Perpustakaan dan Museum Sejarah Medis. Universitas Valencia. Spanyol] (Gambar dari: http://www.historiadelamedicina.org/)
Dalam percobaan sederhana, Niels memperoleh kesimpulan bahwa dalam cahaya matahari, terkandung suatu zat lamia tertentu atau terdapat busur listrik dari cahaya matahari yang memiliki efek merangsang pada suatu jaringan jika radiasinya terlalu kuat.
Penerapan sinar matahari terkonsentrasi ke daerah yang terkena infeksi penyakit. [Perpustakaan dan Museum Sejarah Medis. Universitas Valencia. Spanyol] (Gambar dari: http://www.historiadelamedicina.org/)
Radiasi dari matahari yang kuat justru akan merusak jaringan, walaupun tubuh memiliki kekuatan melawan efek radiasi tersebut dengan pembentukan pigmen, tetapi tetap saja radiasi itu bersifat merusak Dengan demikian, ia menyimpulkan bahwa untuk penyakit cacar, pasien akan lebih baik jika menghindari cahaya matahari terutama menghindari kandungan kimia perusak tersebut.

Dalam beberapa rangkaian percobaannya, cahaya matahari yang telah melewati serangkaian proses penyaringan hingga diperoleh cahaya merah, yaitu cahaya akhir spektrum merah, dikombinasikan dengan cahaya matahari (ultraviolet) yang telah disaring, dapat berguna untuk pengobatan tuberkolosis (TBC). Setelah menerbitkan karya-karya penting dalam bidang fototerapi dalam kurun waktu 1893 hingga 1894, Niels lalu mulai meneliti pengobatan terhadap penyakit lupus vulgaris yang disebabkan oleh bakteri, dengan cara fototerapi.

Dengan mengumpulkan hasil-hasil riset mengenai cahaya matahari yang terdahulu, yaitu riset yang menyatakan bahwa sinar matahari dapat membunuh bakteri, Niels lalu mencoba memfokuskan cahaya buatan melalui prisma, menyaringnya berkali-kali sehingga setelah sekian lama melakukan percobaan, ia menyimpulkan bahwa pada konsentrasi yang tinggi tetapi tertentu, sinar ultraviolet dapat menyerang secara efektif jaringan yang sakit.

Penemuannya ini menyebabkan penggunaan sinar ultraviolet dengan konsentrasi tertentu menjadi pilihan untuk pengobatan lupus vulgaris dalam beberapa dasawarsa. Niels lalu mendirikan Institut Cahaya di Kopenhagen, tempat ratusan pasien lupus vulgaris berhasil disembuhkan.

Atas jasa-jasanya pada bidang ilmu fototerapi, Niels banyak memperoleh penghargaan, di antaranya gelar profesor pada tahun 1898 dan menjadi knight dari orde Dannebrog. Niels adalah anggota kehormatan dari berbagai organisasi kemasyarakatan di Skandinavia, Rusia, Jerman, dan lain-lain. Niels pun memperoleh medali emas Denmark untuk usaha-usahanya di bidang kesehatan. Pada tahun 1903 Niels Ryberg Finsen memperoleh hadiah Nobel untuk bidang fisiologi atau kedokteran. Pada tahun 1904, Niels memperoleh hadiah dari University of Edinburgh. Pada tanggal 24 September 1904, Niels Ryberg Finsen meninggal dunia. *** [YAYIZA | PIKIRAN RAKYAT 10052012]
Note: This blog can be accessed via your smart phoneEnhanced by Zemanta

Penemu Sinar-X

WILHELM CONRAD RONTGEN (1845-1923)
Tak terbayangkan jika dunia ini tak mempunyai alat rontgen. Nyaris mustahil! Wilhelm Conrad Rontgen si penemu sinar-X dilahirkan pada 27 Maret 1845 di Lennep Jerman anak seorang pedagang pakaian.

Pada usia 3 tahun, keluarganya pindah ke Apeldoorn Belanda. Ia kemudian masuk ke Institut Martinus Herman Van Doorn.

Rontgen belajar Fisika Universitas Utrecht tahun 1865. Ia kemudian masuk dalam jurusan Rekayasa Mekanik di Politeknik Zurich Swiss dan bekerja di laboratorium Kundt di bawah bimbingan dosennya-Clausius. Rontgen memperoleh gelar PhD. tahun 1869, kemudian terbang ke Prancis mengajar di Univesitas Strasbourg sebagai guru besar bidang Fisika. Tak lama kemudian ia pindah ke Jerman tahun 1900 menjadi ketua jurusan Fisika Universitas Munich atas permintaan khusus pemerintah Provinsi Bavaria.

Karya pertamanya dipublikasikan tahun 1870 tentang “panas gas yang spesifik”, kemudian disusul karya tulis tentang “konduksi panas kristal.

Tanggal 8 November 1895 Rontgen melakukan percobaan dengan "Cathode", sinar Cathode terdiri atas arus elektron. Arus diproduksi menggunakan voltase tinggi antara electrode yang ditempatkan pada masing-masing ujung tabung gelas yang udaranya hampir di kosongkan seluruhnya. 

Sinar cathode ini tidak khusus merembes dan sudah distop oleh beberapa sentimeter udara. Pada peristiwa ini Rontgen sudah sepenuhnya menutup tabung sinar cathode dengan kertas hitam tebal sehingga biarpun listrik dinyalakan, tak ada cahaya yang bisa terlihat dari tabung. 

Akan tetapi, takkala Rontgen menyalakan arus listrik di dalam tabung sinar cathode, dia terperanjat melihat bahwa cahaya mulai memijar pada layar yang terletak dekat bangku seperti distimulir oleh sinar lampu. 

Dia padamkan tabung dan layar (yang terbungkus barium platino cyanide). Lalu cahaya berhenti memijar. Karena tabung sinar cathode sepenuhnya tertutup. Rontgen segera sadar bahwa suatu bentuk radiasi yang tak kelihatan mesti datang dari tabung ketika cahaya listrik dinyalakan. Karena ini merupakan hal yang misterius, dia sebut radiasi yang tampak itu "sinar-X" yang merupakan lambang matematik biasa untuk sesuatu yang tidak diketahui. 

Tergiur oleh penemuannya yang kebetulan itu, Rontgen menyisihkan penyelidikan-penyelidikan lainnya dan ia pusatkan perhatian terhadap penelaahan hal ihwal yang terkandung dalam "Sinar-X". Sesudah beberapa minggu bekerja keras, dia menemukan bukti-bukti lain sebagai berikut.
  1. Sinar X bisa membuat sinar pelbagai benda kimia selain brium platinocyanide.
  2. Sinar X dapat menerobos lewat berbagai benda yang tak tembus oleh cahaya biasa. Rontgen menemukan bahwa sinar-X dapat menembus dagingnya, tetapi berhenti pada tulangnya. Dengan jalan meletakkan tangannya antara tabung sinar cathode dan layar yang bersinar, Rontgen dapat melihat di layar bayangan dari tulang tangannya.
  3. Sinar X berjalan menurut garis lurus; tidak seperti partikel bermuatan listrik, sinar X tidak terbelokkan oleh bidang magnet. 
Bulan Desember 1895 Rontgen menulis kertas kerja pertamanya mengenai sinar-X. Laporannya dalam waktu singkat menggugah perhatian dan kegemparan. Dalam tempo beberapa bulan, banyak ilmuwan melakukan penyelidikan sinar-X dan dalam tempo setahun sekitar 1000 kertas kerja diterbitkan tentang masalah itu. 

Salah seorang ilmuwan yang penyelidikannya langsung pada hasil penemuan Rontgen adalah Antoine Henry Becquerel. Orang ini meskipun maksud utamanya menyelidiki sinar-X, justru menemukan fenomena penting tentang radioaktivitas. 

Secara umum sinar-X bekerja bila energi tinggj elektron mengenai sasaran. Sinar-X itu sendiri tidak mengandung elektron. Akan tetapi, gelombang yang dapat terlihat mata (yaitu gelombang cahaya), kecuali panjang gelombang sinar-X jauh lebih pendek. 

Sinar-X juga banyak dipergunakan untuk keperluan industri, misalnya bisa digunakan untuk mengukur tebal suatu benda atau mencari kerusakan yang tersembunyi. Sinar-X juga berfaedah pada banyak bidang penyelidikan ilmiah, mulai dari biologi hingga astronomi. Sinar-X menyuguhkan kepada para ilmuwan sejumlah besar informasi yang berkaitan dengan atom dan struktur molekul.

Rontgen tak mempunyai anak karena itu dia dan istrinya, Anna Bertha Ludwig kemudian mengadopsi anak seorang gadis, tahun 1901 Rontgen menerima hadiah Nobel bidang fisika yang untuk pertama kalinya diberikan pada bidang itu. Dia tutup usia di Munich, Jerman pada 10 Februari 1923. *** [ASEP CANDRA ABDILAH | BIOLOGIPEDIA | PIKIRAN RAKYAT 12042012] 
Note: This blog can be accessed via your smart phoneEnhanced by Zemanta

MRI, Diagnosis Penyakit tanpa Efek Samping

RAYMOND VAHAN DAMADIAN  (1936-Sekarang)
Diagnosis kelainan yang diderita pasangan kembar siam dapat dilakukan dengan menggunakan alat MRI (Magnetic Resonance Imaging). Alat ini diyakini pertama kali dikembangkan oleh Raymond V. Damadian.

Damadian lahir di Forest Hills, New York pada tanggal 16 Maret 1936. Ia dilahirkan dari keluarga berkebangsaan Armenia-Amerika. Damadian sempat mempelajari alat musik Biola di sekolah Musik Julliard di New York sebelum akhirnya menerima gelar Bachelor of Science di bidang matematika pada tahun 1956. Selanjutnya ia tertarik mengambil bidang kedokteran dan dapat menyelesaikan studinya pada tahun 1960.

Sebagai seorang lulusan The Albert Einstein College of Medicine, New York, Damadian berhak menyandang gelar deleter. Ia sempat bergabung dengan Angkatan Udara Amerika. Kemudian bekerja sama dengan Pusat Kesehatan The Faculty of SUNY Downstate untuk melakukan beberapa eksperimen. Penelitiannya tentang kandungan sodium dan potasium pada sel makhluk hidup menuntunnya untuk melakukan eksperimen pertama dengan menggunakan NMR (Nuclear Magnetic Resonance). Hal itu memberinya ide untuk mengusulkan penggunaan alat pemindai tubuh yang menggunakan prinsip Resonansi Magnetik.

Damadian menggunakan tikus sebagai hewan percobaan. Ia menemukan ada perbedaan yang mengejutkan antara kualitas dan durasi sinyal NMR terhadap sel-sel kanker dan jaringan tubuh yang sehat. Fakta itu membuatnya semakin yakin dapat menciptakan alat pemindai Resonansi Magnetik. Dengan bantuan anggota tim penelitinya, Damadian menggunakan cairan helium untuk mendinginkan magnet dalam ruangan berbentuk silinder. Inti dari atom hidrogen yang dimiliki semua sel tubuh akan bereaksi terhadap medan magnet yang dihasilkan. Kemudian metode lokalisasi spasial berbentuk 3 dimensi akan mengatur sinyal ke alat pemindai tersebut.
Alat dan metode untuk mendeteksi kanker pada jaringan oleh Raymond V. Damadian. (Gambar dari: http://en.wikipedia.org/)
Damadian mempublikasikan penemuannya itu dalam jurnal sains pada tahun 1971 dan dipatenkan pada tahun 1972. Lima tahun kemudian Damadian dan anggota timnya berhasil memproduksi alat pemindai MRI untuk dipergunakan mendeteksi kanker. Dengan bantuan asistennya, Dr Lawrence Minkoff dan Michael Goldsmith, Damadian membuat prototipe yang disebutnya Indomitable. Alat tersebut kini tersimpan di institusi bernama Smithsonian.

Pemindai MRI pertama itu mampu menghasilkan tampilan gambar jantung dan paru-paru dengan jelas. Alat ini juga diketahui tidak menimbulkan efek samping dan rasa sakit. Saat ini MRI digunakan untuk menganalisis bagian tubuh manusia secara detail. MRI juga mampu memindai komposisi kimia dari jaringan tubuh. Satu hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan MRI, pasien tidak boleh membawa barang-barang dari logam. Hal itu karena MRI menggunakan kekuatan medan magnet yang cukup besar, meski tanpa radiasi sinar meng-ion.

Pada tahun 1978, Damadian mendirikan perusahaan yang dinamakan Fonar (Field Focused Nuclear Magnetic Resonance). Perusahaan ini mulai memproduksi alat MRI tahun 1980 untuk kepentingan komersial. Alat MRI yang diproduksi oleh Fonar mulai dikembangkan dari tahun ke tahun dan langsung dipatenkan. Total paten yang telah dimiliki perusahaan Damadian mencapai 40 daftar. Salah satu pengembangan alat MRI yang berhasil diciptakan Damadian adalah Stand-Up MRI. Penemuan ini memungkinkan pasien dipindai dalam keadaan berdiri.

Kontribusi Damadian dalam bidang kedokteran ini dilirik oleh Presiden Amerika saat itu, Ronald Reagen. Reagen merasa bangga dan akhirnya memberikan penghargaan berupa medali The National Medal of Technology pada tahun 1988. Pada 2001, ia kembali dianugerahi penghargaan berupa hadiah The Lemelson-MIT Prize sebesar $ 100.000.
Alat pemindai MRI. (Gamdar dari: http://www.magnet.fsu.edu/)
Institut Franklin di Philadelphia juga memberikan Bower Award untuk kategori kepemimpinan bisnis. Pada tahun 2003, Damadian juga mendapat penghargaan Innovation Award untuk kategori Biosains dari The Economist. *** [RA. LAKSMI PRITI MANOHARA | PIKIRAN RAKYAT 29032012]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.Enhanced by Zemanta

Pionir Pemanfaatan Energi Panas Bumi Modern

PIERO GINORI CONTI (1865-1939) 
Pemanfaatan energi panas bumi untuk kepentingan industri modern pertama kali dilakukan oleh Piero Ginori Conti, seorang Pangeran dari Trevignano, Italia. Dia juga dikenal sebagai seorang pengusaha dan politikus Italia, lahir di Florence pada 3 Juni 1865 dan wafat di kota kelahirannya itu pada 3 Desember 1939.

Piero lahir di keluarga aristokrat Florence. Pada 1894, dia menikah dengan putri seorang bangsawan dari Tuscany, Adriana de Larderel. Dari keluarga istrinya itu, Piero mendapat warisan perusahaan ekstraksi boric acid, formula yang dapat ligunakan untuk membuat antiseptik dan insektisida.

Saat menjabat sebagai pimpinan perusahaan itu pada 1904, Piero memiliki rencana untuk meningkatkan kualitas produknya, sekaligus ingin meningkatkan kuantitas produksi dan menekan biaya produksi semurah mungkin. Untuk menjalankan rencananya itu, terbersit ide untuk mengeksploitasi energi uap dari geyser untuk memproduksi listrik.

Pada Juli 1904 di Larderello, Italia, Piero mulai melakukan rencananya itu, dengan menyalakan lima lampu bohlam melalui tenaga dinamo yang mendapatkan energi dari uap geotermal. Dari percobaannya itu, dia mengembangkan lagi sistem pembangkit listriknya, dan pada 1916 berhasil memproduksi 2.750 kW listrik yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk desa di sekitar pusat pembangkitnya di Larderello.
Namun projek pembangkit listrik geotermalnya itu tidak dapat langsung dikembangkan, karena Perang Dunia I pecah, dan berubahnya situasi politik dan sosial di Italia saat itu. Sampai akhirnya Benito Mussolini menjadi pemimpin Italia, kondisi sosial dan politik mulai tenang. Keluarga Ginori Conti dan Larderel pun menjadi pendukung utama rejim fasis Mussolini.

Pada 1921, projek pembangkit listrik geotermal milik Piero mulai kembali dijalankan. Dan listrik yang diproduksi dari pembangkit itu mampu memberikan energi bagi perusahaannya.

Namun tidak semuanya berjalan lancar. Pada 27 Maret 1931, salah satu fasilitas pembangkit listrik geotermalnya meledak dan menimbulkan suara gemuruh yang konstan. Suara gemuruh dari sumur uap itu begitu keras dan berlangsung lama, sampai-sampai warga sekitar harus menutup rumah mereka rapat-rapat untuk dapat tidur pada malam hari. Suara gemuruh itu sampai terdengar di jarak 25 kilometer.

Setelah musibah itu, pada 1936, perusahaan Piero yang kemudian diberi nama Ferrovie dello Stato, membuka pembangkit listrik baru dengan kekuatan 60 MW. Ketika Perang Dunia II pecah, perusahaan itu terus melakukan penelitian dan pengembangan pembangkit listrik geotermal. Puncak dari keberhasilan itu adalah dibangunnya pembangkit listrik dengan kekuatan 900 GWh pada 1943, empat tahun setelah Piero wafat.

Piero Ginori Conti wafat pada 3 Desember 1939, ketika dia menjabat sebagai menteri negara di bawah kepemimpinan Benito Mussolini. Dari masa kediktatoran Mussolini pula, dia mendapat penghargaan berupa Grand Cross dan Grand Cordon of the Order of Saints Maurice. Dengan penghargaan yang diperolehnya itu, Piero mendapat perlakuan sebagai pahlawan, dan pemakamannya dilakukan secara kenegaraan di Basilica Of Santa Maria del Fiore di Florence pada 5 Desember 1939. *** [DARI BERBAGAI SUMBER | ZAKY YAMANI | PIKIRAN RAKYAT 15032012]
Note: This blog can be accessed via your smart phoneEnhanced by Zemanta

Pionir Hemodialysis

WILLEM JOHAN KOFF(1911-2009)
Willem Johan Koff adalah seorang pionir di bidang hemodialysis dan penelitian di bidang organ buatan. Dia lahir di Belanda dan mulai menemukan penemuan-penemuan baru untuk kasus gagal ginjal selama masa Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1950 dia bermigrasi ke Amerika Serikat dan mendapatkan kewarganegaraan AS pada tahun 1955. Sejak tinggal di AS dia menerima berbagai penghargaan yang diakui banyak kalangan ilmuwan atas penemuan-penemuannya.

Koff mulai belajar ilmu kedokteran di Universitas Leiden, kemudian melanjutkan sebagai dokter dan peneliti ilmu pengobatan di Univesitas Groningen. Salah seorang pasiennya saat di Groningen adalah pemuda berusia 22 tahun yang mati secara perlahan akibat gagal ginjal. Pengalaman itu mendorong Koff untuk melakukan penelitian intensif untuk penggunaan fungsi ginjal buatan. Selama di bekerja di Groningen pula Koff memulai pengorganisasian bank darah di Eropa.

Selama Perang Dunia II, Koff tinggal di Kampen, tempat dia ikut aktif dalam gerakan perlawanan terhadap pasukan pendudukan Jerman. Di sela-sela aktivitas gerilyanya, Koff masih menyempatkan diri melakukan penelitian terhadap kasus gagal ginjal. Dia pun melakukan berbagai percobaan penggunaan fungsi ginjal buatan. Dia mulai melakukannya pada seorang pasien pada tahun 1943 dan pada 1945 untuk pertama kalinya dia berhasil menyelamatkan hidup seorang pasien dengan metode hemodialysis. Pada 1946 Koff meraih gelar PhD. dengan derajat summa cum laude pada bidang penggunaan fungsi ginjal buatan di Universitas Groningen. Hal itu menandai dimulainya perawatan hemodialysis yang berhasil menyelamatkan jutaan pasien yang menderita gagal ginjal akut.

Koff kemudian diakui sebagai Bapak Organ Tubuh Buatan dan disebut sebagai salah seorang ilmuwan paling penting di abad ke-21. Dia meraih lebih dari 12 gelar doktor kehormatan di berbagai universitas di dunia dan lebih dari 120 penghargaan internasional, di antaranya Harvey Prize (1972), AMA Scientific Achievement Award (1982), the Japan Prize (1986), the Albert Lasker Award for Clinical Medical Research (2002), dan the Russ Prize (2003).

Pada 1990, Life Magazine memasukkan Koff di daftar 100 Orang Paling Penting di Abad 20. Dia juga sempat menjadi nominator Hadiah Nobel untuk Kedokteran tahun 2003. Robert Jarvik, yang bekerja di laboratorium Koff di Universitas Utah pada 1971, menyebut Koff sebagai orang yang telah menginspirasinya untuk melakukan pencangkokan jantung buatan untuk pertama kalinya.

Koff wafat tiga hari setelah hari ulang tahunnya yang ke 98, pada 11 Februari 2009, di pusat perawatan di Philadelphia, AS. *** [ZAKY YAMANI | PIKIRAN RAKYAT 01032012]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.Enhanced by Zemanta

Penggagas Prakiraan Cuaca Modern

FRANCIS BEAUFORT (1774-1857)
Francis Beaufort dikenal sebagai salah satu yang membawa prakiraan cuaca menjadi bagian dari Ilmu pengetahuan. Dia lahir pada 24 Mei 1774 di Navan, Irlandia, dari keluarga berkebangsaan Francis penganut Protestan yang melarikan diri dari perang agama di Francis pada tahun 1500-an.

Beaufort lahir dan besar di Wales dan Irlandia sampai usia 14 tahun. Kemudian dia meninggalkan sekolah dan menjadi seorang pelaut. Akan tetapi, dia kemudian mendidik dirinya sendiri dengan baik dan banyak bergaul dengan ilmuwan-ilmuwan hebat pada masanya, seperti Herschel, Airy, dan Babbage.

Sejak menjadi pelaut, Beaufort memiliki kesadaran yang tinggi terhadap nilai perhitungan cuaca yang akurat. Hal itu semakin kuat ketika dia mengalami kecelakaan kapal pada usia 15 tahun, akibat kesalahan prakiraan cuaca.

Dia kemudian bergabung dengan Angkatan Laut Inggris dan ikut berperang dalam melawan invasi Napoleon sampai mendapat pangkat komandan kapal. Pada masa awal kepemimpinannya di kapal perang Inggris, Beaufort mengembangkan versi pertama Skala Kekuatan Angin dan Kode Notasi Cuaca. Pada 1811-1812, sesaat setelah dia dipromosikan menjadi kapten kapal, Beaufort mengeksplorasi wilayah Anatolia bagian selatan dan menemukan reruntuhan bangunan kuno. Saat itulah Beaufort dan pasukannya diserang tentara Turki dan dia mengalami luka tembak.

Karena lukanya itu, dia pulang ke Inggris dan memiliki waktu lebih banyak untuk membuat peta cuacanya sendiri, lalu mempublikasikan bukunya yang berjudul Karamania. Buku itu berisi penjelasan ringkas tentang pesisir selatan Asia Kecil dan sisa-sisa peradaban kunonya.

Pada 1829, di usia yang ke-55, Beaufort menjadi hidrografer di Angkatan Laut Inggris. Dia menduduki jabatan itu selama 25 tahun. Di masa kerjanya itu, Beaufort berhasil mengubah lembaga Hidrografi Angkatan Laut Inggris dari bagian yang tidak diminati, menjadi lembaga survei dan pemetaan paling baik di dunia. Peta dan hasil survei yang dihasilkan oleh lembaganya itu bahkan masih digunakan sampai saat ini.

Kemudian dia diberi kewenangan mengurus berbagai observatorium besar di Greenwich, Inggris dan Tanjung Harapan di Afrika. Dia juga diberi tanggung jawab memimpin berbagai eksplorasi dan eksperimen maritim.

Dengan berbagai aktivitas survei dan pemetaannya, Beaufort diangkat menjadi anggota dewan di The Royal Society, The Royal Observatory, dan The Royal Geographic Society. Posisinya yang tinggi di berbagai insitusi ilmuwan terkenal itu membawanya menjadi semacam "orang penghubung" para ilmuwan, mulai dari astronomi, oseanografi, geodesi, meteorologi, hingga menghubungkan mereka dengan pejabat pemerintah atau sebaliknya.

Kemudian, dengan melawan berbagai tentangan, Beaufort berhasil mendapatkan dukungan pemerintah Inggris untuk melakukan perjalanan ke Antartika pada 1839-1843 untuk pengukuran lebih lanjut atas magnetik terestrial yang dihubungkan dengan pengukuran serupa yang pernah dilakukan di Eropa dan Asia.

Beaufort juga dikenal sebagai tokoh yang menganjurkan pengembangan alat pengukur gelombang di seputar pesisir Inggris dan memotivasi penelitian serupa di Eropa dan Amerika Utara.

Beaufort wafat pada 17 Desember 1857 pada usia 83 tahun di Hove, Sussex, Inggris. Seperti para penjelajah besar, nama Beaufort juga digunakan dalam banyak nama geografis, misalnya Laut Beaufort (di dekat Laut Arktik), Teluk Beaufort (di Laut Atlantik Utara), dan Pulau Beaufort (di Laut Antartika). *** [ZAKY YAMANI | PIKIRAN RAKYAT 16022012]Enhanced by Zemanta

Pemegang Paten Reaktor Nuklir Pertama

LEO SZILARD (1898-1964)
Leo Szilard adalah ilmuwan yang pertama kali mengembangkan ide tentang reaksi nuklir berantai dan mengaplikasikannya ke dalam prinsip kerja reaktor nuklir. Bersama Enrico Fermi, ia merupakan pemegang paten reaktor nuklir pertama. Szilard yang berdarah Yahudi lahir tahun 1898 di Budapest. Ia merapakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang insinyur teknik sipil. Sejak sekolah bakatnya dalam matematika dan fisika sudah tampak. Pola pikirnya sudah lebih matang dan dewasa dibandingkan anak-anak seusianya. Tahun 1916 ia menjadi pemenang kontes Eotvos, semacam perlombaan matematika nasional di Hongaria.

Ketika terjadi pergolakan politik yang memicu maraknya antisemitisme, ia meninggalkan Hongaria dan melanjutkan studinya di Institut Teknologi Berlin Charlottenburg. Di sana ia mempelajari fisika bersama ilmuwan-ilmuwan tersohor seperti Albert Einstein dan Max Planck. Disertasinya dalam bidang Termodinamika mendapat pujian dari Einstein dan dinobatkan menjadi salah satu disertasi terbaik di tempatnya belajar.

Tahun 1923, ia meraih gelar doktor fisika dari Universitas Humboldt, Berlin. Pada tahun itu pula, Szilard mematenkan temuannya yang pertama, yaitu sinar-X dengan sel sensitif. Penemuan selanjutnya adalah penyempurnaan lampu uap merkuri, yang pada saat itu merupakan lampu uap termodern. Tahun-tahun selanjutnya merupakan tahun kreatif bagi Szilard karena selain sibuk meneliti dan menghasilkan berbagai konsep teoretis, ia mematenkan lebih dari 45 temuan.

Ketika rezim Nazi berkuasa, Szilard pindah ke Inggris karena pada masa itu situasi negara tidak memberi iklim yang baik untuk melakukan penelitian. Di negeri ini Szilard melakukan penelitian transmutasi inti nuklir dan menemukan ide bahwa energi nuklir mungkin bisa didapat dengan cara menembakkan partikel atom agar dapat menembus inti atom dan membelahnya sehingga timbul energi dalam proses itu.

Memisahkan inti atom dengan menembakkan proton atau elektron tidak dimungkinkan karena atom memiliki proton dan elektron yang mengelilingi inti nuklirnya. Saat mendekati inti nuklir, proton atau elektron yang ditembakkan akan dibelokkan akibat gaya tolak-menolak yang terjadi antarmuatan sejenis. Satu-satunya jalan untuk membuat atom terbelah ialah dengan menggunakan partikel netral (neutron) yang baru saja ditemukan pada waktu itu (tahun 1933) oleh James Chadwick. Karena neutron tidak bermuatan, saat ditembakkan ke target inti nuklir tidak akan ditolak oleh partikel bermuatan di sekitar inti nuklir. Neutron akan menyebabkan inti nuklir goyah dan pada akhirnya membelah atom menjadi unsur-unsur yang lebih ringan namun bersifat radioaktif.

Ia berhasil mematenkan konsep reaksi fisi nuklir dengan neutron sebagai bahan bakarnya. Fisi nuklir merupakan reaksi nuklir, yaitu inti atom membelah dan menghasilkan neutron dan proton bebas (dalam bentuk sinar gamma) serta menghasilkan energi dalam prosesnya. Tahun 1936 konsep ini dipatenkan secara rahasia kepada Departemen Pertahanan Inggris.

Saat Perang Dunia ke-2 pecah pada tahun 1939, ia telah berada di Amerika dalam rangka penelitian lanjut. Pada tahun ini reaksi fisi nuklir bukan lagi sekadar teori karena telah dibuktikan secara eksperimen dengan menggunakan elemen Uranium.

Reaktor nuklir pertama dibangun pada 2 Desember 1942 dengan menggunakan prinsip fisi nuklir. Reaktor itu dibuat secara rahasia di basement lapangan squash di Universtas Columbia atas prakarsa Enrico Fermi dan Szilard.

Menyadari bahwa energi nuklir memiliki potensi untuk dijadikan senjata pemusnah massal dan khawatir Nazi membuat bom atom, Szilard memutuskan untuk membuat surat kepada Presiden Roosevelt dan meminta Albert Einstein menandatanganinya sehingga hal ini menjadi cikal-bakal pembentukan proyek dengan sandi Manhattan, suatu proyek yang berusaha menciptakan bom atom pertama di dunia. Ia memikirkan kemungkinan aplikasi dari persamaan E=mc2 yang ditemukan Albert Eistein pada tahun 1905, yang memiliki tafsiran bahwa sejumlah perubahan massa yang kecil dapat menghasilkan energi dalam jumlah teramat besar. *** [IQBAL PRAMADITA | PIKIRAN RAKYAT 05012012]Enhanced by Zemanta

Pemikir Roket ke Luar Angkasa

Roket bukanlah barang baru. Sejak zaman dahulu, bangsa Cina telah menciptakan mercon yang mampu melesat ke udara hingga membentuk kembang api raksasa di angkasa. Pada masa perang, mercon berubah fungsi menjadi sarana peluncur panah api. Senjata itu digunakan tentara Cina untuk menghalau serangan bangsa Mongolia pada tahun 1232. Pada abad ke-19, para ilmuwan mulai memikirkan tentang kemampuan roket untuk membawa wahana dan manusia ke luar angkasa. Dari sekian banyak ilmuwan, adalah Konstantin Tsiolkovsky yang diakui oleh banyak ilmuwan sebagai pionir yang membuat teori dari berbagai aspek perjalanan antariksa oleh manusia dan propulsi roket.

Lahir pada 17 September 1857 di Desa Izhevskoye (sekarang masuk Distrik Spassky), Provinsi Ryazan, Rusia, dia merupakan putra dari pasangan Edward Tsiolkovsky, seorang patriot Polandia yang deportasi ke Rusia, dan Maria Yumasheva, seorang perempuan berpendidikan dari Rusia.

Pada usia sembilan tahun, Konstantin mengalami gangguan pendengaran akibat penyakit infeksi bintik merah (scarlet fever). Oleh karena itu, dia tidak bisa mengikuti pendidikan formal. Namun, kehilangan pendengaran bukanlah hambatan baginya untuk belajar. Dia meraih pengetahuan secara otodidak dengan membaca berbagai buku di perpustakaan ayahnya.

Pada tahun 1873-1876 Konstantin tinggal di Moskow. Di sana dia menerima pendidikan pribadi dari Nikolai Fedorovitch Fedorov, seorang filsuf yang brilian dan penganut Russian Cosmism.

Ketika usia 17 tahun dan masih tinggal di Moskow, Konstantin mulai memimpikan tentang perjalanan ke luar angkasa menggunakan roket. Sebagian besar impiannya itu terinspirasi oleh novel-novel karya Jules Verne. Sejak saat itu pula Konstantin mulai memikirkan tentang masalah desain wahana ruang angkasa. Pemikiran besarnya tidak sebatas tentang kemampuan manusia pergi ke luar angkasa tetapi juga kemampuan manusia untuk tinggal di luar angkasa.

Pada tahun 1880-1892 Konstantin tinggal di Borovsk menjadi guru. Saat itu dia mulai melakukan penelitian ilmiah dengan membuat balon udara, mengkaji permasalahan perjalanan ke luar angkasa, dan mendalami aerodinamika. Ketika masih tinggal di Borovsk, Konstantin menyelesaikan sebuah tulisan berjudul Ruang Hampa (Free Space) pada tahun 1883. Dalam tulisan dia mempertimbangkan kemungkinan perjalanan ke luar angkasa menggunakan roket. Tulisan itu disertai dengan gambar wahana ruang angkasa yang ditenagai dengan jet reaktif.

Pada 28 Maret 1883 Konstantin mendemonstrasikan prinsip aksi reaksi melalui suatu percobaan. Dia mengompres gas ke dalam tong kecil hingga tekanan gas di dalamnya membesar. Setelah itu, tutup lubang kecil tong dibuka dan tong itu pun bergerak akibat dari tekanan gas yang keluar melalui lubang. Dia menemukan bahwa gerakan tong dapat diatur dengan mengubah-ubah tekanan gas yang dilepas dari tong itu.

Pada 1892-1935 Konstantin yang tinggal di Kaluga termasyhur dengan menerbitkan teori-teorinya tentang penerbangan antariksa dan Dia juga menulis Filosofi Kosmik.

Tahun 1903, Konstantin menyusun desain roket pertamanya menggunakan bahan bakar campuran oksigen cair dan hidrogen cair. Kedua bahan bercampur menjadi bahan peledak di ujung sempit tabung roket. Pembakaran bahan bakar yang telah bercampur itu akan menghasilkan gas termampatkan dan terpanaskan. Gas itu secara cepat mendingin dan merenggang di bagian tepi yang lebih lebar pada tabung atau di bagian ekor roket sehingga menghasilkan pembuangan gas atau semburan yang bisa memberikan gaya dorong dan meluncurkan roket dengan kecepatan relatif tinggi. Desain itu merupakan ramalan Konstantin dan tidak pernah benar-benar dibuat pada masa hidupnya.

Hingga akhir hidupnya, 19 September 1935, Konstantin tidak pernah menyaksikan desain motor roketnya terwujudkan, karena ketidakstabilan politik Rusia dan kekurangan sumber daya manusia. Namun, pemikiran roket multistage-nya telah diaplikasikan untuk meluncurkan wahana dan manusia ke luar angkasa pada era sekarang. Hingga saat ini tulisan-tulisan karya Konstantin Tsiolkovsky tetap dipelihara, terutama untuk merangsang pertumbuhan program roket dan ruang angkasa Rusia. *** [GUN GUN GUNAWAN | PIKIRAN RAKYAT 22122011]
Enhanced by Zemanta
Copyright © Hollywood Celebrity. All Rights Reserved.